Sabtu, 19 Februari 2011

PENGARUH SUHU UDARA TERHADAP EMOSI SESEORANG

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan zaman yang sangat pesat dalam segala bidang saat ini bukan berarti lancarnya segala sesuatu yang dihadapi seluruh umat manusia. Justru hal ini menimbulkan masalah-masalah baru yang dialami oleh individu. Hal ini dapat dilihat dari tingkat emosional yang dirasakan individu terhadap suhu udara saat ini.
Tidak sedikit indivudu yang mengalami emosional yang tinggi yang di akibatkan oleh suhu udara saat ini. Bukan berarti setelah diadakan global warming maka tingkat emosional seseorang mulai menurun. Seseorang yang berada di suatu tempat yang suhu udaranya meningkat (panas) akan merasa tidak nyaman bila berada ditempat itu dan semakin lama orang tersebut berada di tempat itu, maka orang tersebut bisa kehilangan kontrol akan emosinya sehingga dapat merugikan dirinya sendiri bahkan orang lain yang berada di sekitarnya.
Dalam suatu situasi tertentu seseorang benar-benar akan kehilangan beberapa tingkatan kendali terhadap lingkungannya (Veitch dan Arkkelin, 1995). Brehm dan Brehm (dalam Veitch dan Arkkelin, 1995), menekankan bahwa ketika kita merasakan kita sedang kehilangan kontrol atau kendali terhadap lingkungan, kita mula-mula akan merasa tidak nyaman dan kemudian akan mencoba untuk menekankan lagi fungsi kendali kita.
Menurut Sarwono (1992) terdapat tiga kategori stimulus yang dijadikan acuan dalam hubungan lingkungan dengan tingkah laku:
1. stimulus fisik yang merangsang indera (suara, cahaya, suhu udara)
2. stimulus social
3. gerakan

B. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimanakah gambaran tingkat emosional seseorang yang di pengaruhi oleh suhu udara?
2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya emosional pada seseorang yang di pengaruhi oleh suhu udara?
C. Tujuan penelitian

1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memotivasi peneliti lain untuk meneliti lebih lanjut masalah tersebut. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat. Sehingga, diharapkan hasil dari penelitian ini dapat membantu menjelaskan tentang masalah-masalah tersebut

2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada orang-orang bagaimana emosional yang diakibatkan oleh suhu udara dapat di cegah dan tidak menimbulkan hal yang negative bagi orang lain.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Suhu Udara

1. Pengertian Suhu Udara
Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara. Alat untuk mengukur suhu udara atau derajad panas disebut termometer. Pengukuran biasa dinyatakan dalam skala Celsius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Suhu udara tertinggi di permukaan bumi adalah di daerah tropis (sekitar ekuator) dan makin ke kutub makin dingin.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya suhu udara suatu daerah:
1. Lama penyinaran matahari
Lamanya penyinaran matahari membuat tinggi temperatur. Semakin miring sinar matahari semakin berkurang panasnya. Semakin tinggi tempat semakin rendah suhunya. Keadaan tanah, tanah yang licin dan putih banyak memantulkan panas. Tanah yang hitam dan kasar banyak menyerap panas. Daratan cepat menerima dan melepaskan panas dibandingkan lautan.
2. Sudut datang sinar matahari
3. Relief permukaan bumi
4. Banyak sedikitnya awan
5. Perbedaan letak lintang
6. Sifat permukaan bumi

Amplitudo suhu

1. Amplitudo suhu harian : perbedaan suhu harian tertinggi dan terendah.
2. Amplitudo suhu bulanan : perbedaan suhu rata-rata harian tertinggi dan terendah.
3. Amplitudo tahunan : perbedaan suhu rata-rata bulan terpanas dengan suhu rata-rata terdingin.
4. Jalan suhu harian : perubahan suhu naik atau turun dalam satu hari.
5. Besar kecilnya amplitudo suhu dipengaruhi oleh keadaan permukaan bumi, tinggi rendahnya kelembapan udara, dan sifat arus laut pada laut/samudera sekitarnya.



B. Emosi

1. Pengertian Emosi
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yaitu :
a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak
tenang, ngeri
d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga


e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti,
hormat, dan kemesraan
f. Terkejut : terkesiap, terkejut
g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
h. malu : malu hati, kesal

Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.
Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.


BAB III
KESIMPULAN

Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara. Alat untuk mengukur suhu udara atau derajad panas disebut termometer. Pengukuran biasa dinyatakan dalam skala Celsius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Suhu udara tertinggi di permukaan bumi adalah di daerah tropis (sekitar ekuator) dan makin ke kutub makin dingin.
emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa suatu suhu udara dapat menentukan emosi seseorang. Bila seseorang di hadapkan pada suhu udara yang panas makan tingkat emosi yang di miliki orang tersebut akan meningkat


DAFTAR PUSTAKA


http://leonheart94.blogspot.com/2010/04/suhu-udara.html
http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar