Selasa, 01 Maret 2011

Ambient Condition dan Architectural Feature

a. Ambient Condition
Berbicara mengenai kualitas fisik. Rahardjani (1987) dan Ancok (1988), menyajikan beberapa kualitas fisik yang mempengaruhi perilaku antara lain: kebisingan, temperature, kualitas udara, pencahayaan dan warna.
Kebisingan, temperature, dan kualitas udara menurut Ancok, keadaan bising dan temperature yang tinggi akan mempengaruhi emosi para penghuni. Emosi yang semakin kurang dapat dikontrol akan mempengaruhi hubungan social di dalam maupun di luar rumah. Sementara itu, kebisingan menurut Rahardjani, juga akan berakibat menurunnya kemampuan mendengar dan turunnya konsentrasi belajar pada anak.

Pencahayaan dan warna
Menurut Fisher dkk (1984) terdapat banyak efek pencahayaan yang berkaitan dengan perilaku. Corwin Bennet (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa penerangan yang lebih kuat ternyata mempengaruhi kinerja visual kita menjadi semakin cepat dan teliti. Kondisi pencahayaan yang berbeda dapat pula mempengaruhi suasana hati dan mempengaruhi pula perilaku social kita. Efek ini mungkin tergantung dari isi lingkungan dimana kita berada (Fisher dkk, 1984).
Seperti juga cahaya, warna dapat juga mempengaruhi kita secara langsung maupun ketika menjadi bagian dari suatu seting. Cahaya dan warna sulit untuk dipisahkan karena kedua hal tersebut saling mempengaruhi. Bagaimana kita melihat warna akan sangat tergantung pada cahaya.
Menurut Heimstra dan Mc Farling, warna memiliki 3 dimensi, yaitu: kecerahan, corak warna dan kejenuhan. Kecerahan adalah intensitas warna, corak warna adalahwarna yang melekat dari suatu objek, sedangkan kejenuhan adalah tingkatan unsure warna putih yang dicampurkan pada warna laennya

b. Architectural Feature
Estetika
Pengetahuan mengenai estetika memberi perhatian kepada dua hal. Pertama identifikasi dan pengetahuan yang mengenai factor-faktor yang mempengaruhi persepsi dari suatu objek atau suatu proses keindahan atau paling tidak suatu pengalaman yang menyenangkan. Kedua, untuk mengetahui kemampuan manusia untuk menciptakan dan untuk menikmati karya yang menunjukan estetika.

Perabot
Perabot, pengaturannya dan aspek-aspek lain dari lingkungan ruang dalam merupakan salah satu penentu perilaku yang penting. Pengaturan perabotan dalam ruang dapat pula mempengaruhi cara orang mempersepsi ruang tersebut. Misalnya, Imamoglu (dalam Heimstra dan Mc Farling, 1978; Fisher dkk, 1984) menemukan bahwa ruangan yang kosong dipersepsikan lebih besar dari pada ruangan dengan perabot.
Sumber:
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab3-ambient_condititon_dan_architectural_features.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar